Ada apa
dengan Jerman ? Kali ini bukan tentang Hitler sang pemimpin diktator yang
mendunia, pemain bola nasional Jerman Miroslav Klose, atau BJ Habibie yang
diberikan status warga negara kehormatan oleh Jerman. Tapi kali ini saya
mencoba untuk membahas tentang perekonomian Jerman yang tak kalah menariknya
untuk diulas.
Kenapa harus tentang Jerman ? awalnya hanya karena saya suka
dengan tim sepak bola Jerman dan label olahraga keluaran Jerman seperti sepatu
merek Puma, menurut saya semua itu “keren”, dari situ saya mulai
ingin tahu segala sesuatu tentang Jerman. "Made in Germany",
sering menjadi label dengan jaminan mutu, hubungannya dengan perekonomian
dengan merek-merek terkenal asal Jerman tersebut adalah Jerman
merupakan perekonomian nasional terbesar di Uni Eropa (UE) dan yang keempat
terbesar di dunia. Dengan produk domestik bruto (PDB) tertinggi dan jumlah
penduduk terbesar di UE, Jerman adalah pasaran terpenting di UE. PDB-nya
berjumlah 2.407,2 miliar Euro (2009). Untuk lebih jelasnya lihat : Perekonomian
Dalam Angka dan Fakta
Yang termasuk di antara merek unggulan Jerman adalah Mercedes,
BMW, Siemens, Volkswagen, Adidas, Puma dan Porsche.
Di Jerman berlaku sistem Ekonomi Pasaran Berorientasi Sosial. Artinya, negara menjamin
kebebasan bertindak di bidang ekonomi, akan tetapi berusaha menyediakan sarana
penyeimbangan sosial. Berkat konsep itu yang dimasyarakatkan pada masa
pascaperang oleh menteri perekonomian saat itu, Jerman menikmati keadaan
tenteram di bidang sosial, bahkan pada fase timbulnya kesulitan ekonomi.
Suasana tenteram itu tercermin dalam kelangkaan aksi mogok. Undang-Undang Dasar menjamin otonomi penetapan tarif imbalan kerja
yang memberikan hak kepada pemberi kerja dan serikat kerja untuk menyepakati
persyaratan kerja dalam perjanjian tarif yang menjadi tanggung jawab kedua
pihak itu sendiri.
Nama perusahaan besar Jerman dihargai tinggi di dunia
internasional. Di mana-mana label itu melambangkan inovasi, kualitas dan
kemajuan teknik. Perekonomian Jerman ditandai oleh sekitar 3,6 juta perusahaan
kecil dan madya, serta pekerja mandiri dan pemegang profesi tak terikat.
Sekitar 99,7 persen dari jumlah perusahaan total tergolong perusahaan madya.
Dalam kategori itu terhitung perusahaan yang omzet tahunannya di bawah 50 juta
Euro dan jumlah pekerjanya di bawah 500 orang. Kira-kira 70 persen karyawan
bekerja di perusahaan seperti itu. 48,9 persen dari semua perusahaan madya
berkegiatan di bidang jasa, 31,4 persen di sektor produksi barang, dan 19,7
persen di sektor perdagangan. Kebanyakan perusahaan madya dipimpin oleh
pemiliknya sendiri. Perusahaan seperti itu sering diwariskan dari generasi ke
generasi. Dari keseluruhan perusahaan di Jerman, 95 persen merupakan perusahaan
keluarga.
Orientasi Jerman yang tinggi adalah terhadap kegiatan
ekspor, keterpautannya dengan perekonomian dunia sangat erat, hal yang
membedakannya dengan kebanyakan negara lain dan Jerman pun berkepentingan akan
pasaran terbuka. Mitra-mitra perdagangan terpenting ialah Perancis, Belanda,
Amerika Serikat dan Inggris. Pada tahun 2009 diekspor barang senilai 82 miliar
Euro ke Perancis, senilai 54 miliar Euro ke AS dan ke Belanda, dan senilai 53
miliar Euro ke Inggris. Setelah Uni Eropa diperluas ke arah timur (2004 dan
2007), di samping perdagangan dengan negara anggota UE, dapat dicatat peningkatan dalam volume perdagangan dengan negara-negara anggota UE di Eropa Timur.
Sepuluh persen lebih dari ekspor total dilakukan ke negara-negara
tersebut. Ekspor Jerman ke negara Uni Eropa mencapai 63 persen
dari volume ekspor seluruhnya. Meskipun adanya krisis ekonomi, perusahaan
Jerman meningkatkan pengeluaran untuk penelitian dan pengembangan pada tahun
2008 di atas rata-rata dengan 9 persen (5,7 secara global). Menurut studi oleh
Booz&Co., dengan demikian Jerman mempertahankan posisi unggulnya di Eropa
sebagai negara riset dan pengembangan. Menurut data lembaga donor
Stifterverband für die Deutsche Wissenschaft, pada tahun 2007 dikeluarkan
jumlah total 53,4 miliar Euro oleh perusahaan Jerman untuk penelitian dan
pengembangan eksperimental.
Sama dengan negara-negara industri lain, sejak tahun 2008 Jerman
terkena krisis ekonomi dan pasar keuangan yang juga melanda perbankan dan yang
dicetuskan oleh spekulasi pada pasaran barang tak bergerak di Amerika Serikat.
Jerman dilanda oleh krisis itu di tengah fase pertumbuhan yang kuat. Pada musim dingin 2008/2009 Pemerintah Federal
Jerman menyiapkan dua paket penyelamatan berisi miliaran Euro untuk industri
perbankan. Tindakan serupa diambil juga oleh negara lain (Amerika Serikat,
Perancis, Inggris). Di samping itu pemerintah di Berlin menyediakan dana
penggerakan konyungtur dalam dua paket untuk industri. Ternyata program-program
pemerintah untuk perbaikan jalan umum dan renovasi sekolah dan bangunan umum
lain mencapai hasil baik. Undang-undang akselerasi pertumbuhan ekonomi yang
mulai berlaku menjelang akhir tahun 2009 membawa penurunan pajak lebih lanjut
serta impuls untuk permintaan barang di dalam negeri.
Berkenaan dengan krisis pasar keuangan, Jerman berusaha dengan
giat di berbagai forum (Uni Eropa, G20, IMF) demi reformasi arsitektur keuangan
internasional. Demi tujuan itu, cakupan regulasi pasar keuangan hendaknya
diperluas kepada semua pihak yang beraksi, semua produk dan semua pasaran. Di
samping itu perlu dijamin bahwa tindakan regulasi dilaksanakan secara konsisten
dan menyeluruh. Di sektor perbankan, Jerman menginginkan aturan lebih ketat
mengenai modal sendiri dan likuiditas, peraturan tanggung gugat yang berlaku
secara internasional, serta pemeriksa keuangan yang mengontrol dengan lebih
tegas. Pada waktu yang sama hendaknya diberlakukan regulasi lebih ketat pada
sistem imbalan dari bank dan asuransi, begitu juga pemberian bonus kepada
manajer yang tingginya tidak wajar dapat dilarang. Melalui kebijakan ekonomi
yang dipegangnya, Pemerintah Federal ingin menghentikan gerak turun pertumbuhan
secepat mungkin dan mengantar Jerman keluar dari krisis dalam keadaan lebih
kuat. Sebelum adanya krisis pun kondisi umum untuk perusahaan telah diperbaiki
lebih lanjut dengan penurunan biaya samping upah, pengaturan pasaran kerja yang
lebih fleksibel, dan penyederhanaan birokrasi. Di samping itu pada tahun 2008
mulai berlaku reformasi pajak badan, hal yang berarti beban perusahaan
diringankan.
Spesialisasi Jerman adalah pengembangan dan pembuatan barang
industri canggih, terutama barang investasi dan teknologi produksi yang
inovatif. Cabang-cabang industri terpenting ialah industri mobil, konstruksi
mesin, elektroteknik dan kimia. Keempat cabang industri itu saja mempekerjakan
2,9 juta orang yang menghasilkan omzet sebesar 800 miliar Euro lebih. Industri
mobil juga berperan sebagai penggerak inovasi: Sekitar 30 persen dari seluruh
pengeluaran P&P intraperusahaan di Jerman berasal dari cabang industri tersebut.
Dengan keenam perusahaan VW, Audi, BMW, Daimler, Porsche (VW) dan Opel (General
Motors), Jerman tergolong negara produsen mobil terbesar di samping Jepang,
Cina dan AS – dengan pangsa pasar besar di kelas menengah atas dan kelas atas.
Walau begitu industri mobil terpukul juga oleh krisis penjualan yang melanda
seluruh dunia. Untuk mempersiapkan diri bagi masa depan, seluruh industri
otomotif kini sibuk mengembangkan unit penggerak yang ramah lingkungan,
misalnya mesin diesel generasi baru, motor hibrida, dan elektrifikasi lebih
jauh dari sistem penggerak.
Jerman terletak di jantung Eropa dan dikelilingi sembilan negara
tetangga : Perancis, Swis, Austria, Cekia, Polandia, Denmark, Belanda, Belgia,
Luksemburg. Letaknya yang strategis juga mempengaruhi keuntungan dalam pengembangan dalam bidang perekonomian.
Perekonomian Jerman selain maju karena pengembangan teknologi,
perekonomiannya juga di topang oleh beberapa sektor, di antaranya sektor
pertanian, perindustrian, pertambangan, perdagangan dan pariwisata.
Sektor-sektor tersebutlah yang menjadi pilihan mata pencaharian masyarakat di
Jerman. (Books Google : Amir Khosim, S.Pd dan Kun Marlina Lubis, Geografi
SMA Kelas XII, Hal.125 : Indikator Negara Maju Dan Negara Berkembang)
Sumberdaya manusia di Jerman dapat dilihat pembagiannya melalui
grafik Pekerja
Menurut Bidang. Kanselir Jerman Angela Merkel mengajak perusahaan
Jerman menerobos pasar luar negeri. Salah satu fokus utama Jerman adalah
kawasan Asia Pasifik yang sedang berkembang pesat. Asia akan memainkan peran
penting bagi perkembangan ekonomi Jerman di masa depan. Sekitar 14 persen
ekspor Jerman ditujukan ke kawasan Asia-Pasifik. Motor utama pertumbuhan di
kawasan itu adalah Cina dan Asia Tenggara. Investasi Jerman ke Asia antara tahun 2002
sampai 2011 meningkat tiga kali lipat dan mencapai nilai 114 milyar Euro.
Direktur Utama Siemens, Lienhard mengajak perusahaan Jerman untuk membidik
pasar di Asia dan memperkuat posisinya di kawasan itu.
REFERENSI PENULISAN :

No comments:
Post a Comment